ASMAT MUSEUM

Representasi Jati Diri Suku Asmat Di Tengah Modernisasi.

John Ohoiwirin


Visi Gereja Katolik Asmat.

Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat adalah wujud nyata dari kepedulian Gereja Katolik akan penghargaan kearifan lokal di tanah berlumpur ini, Museum ini merupakan representasi dari perjalanan panjang visi dan misi Gereja Katolik bagi kebudayaan Asmat. Sejak awal perutusan Gereja Katolik di Asmat ada sebuah kesadaran akan pentingnya menghargai kebudayaan Asmat. Para misionaris melakukan misi iman ke seluruh Asmat dengan tetap mel. akukan berbagai penelitian tentang kebudayaan Asmat. Misi ini kemudian semakin jelas ketika Uskup pertama, Mgr. Alphonse Sowada, OSC menyampaikan visinya sesaat sebelum beliau ditahbiskan sebagai Uskup Keuskupan Agats tahun 1969. “Seni dan kebudayaan masyarakat setempat sangat penting dan perlu dihargai.” Ungkap Mgr. Alfons Sowada, OSC di hadapan para misionaris. Visi yang tampaknya sederhana ini kemudian dilanjutkan dengan berbagai penelitian dan pengumpulan berbagai obyek budaya Asmat secara kontinyu sekaligus menjadi tonggak keseriusan Gereja Katolik dalam melestarikan kebudayaan Asmat.

Dengan demikian tak dapat disangkal bahwa museum yang berdiri di tengah-tengah Suku Asmat ini merupakan hasil refleksi dari para misionaris pionir di wilayah Kabupaten Asmat ini . Sebuah visi yang diwujudkan dengan didirikannya sebuah wadah kebudayaan yang akan terus memberikan motivasi dan penyadaran bagi Suku Asmat dan siapa saja yang berdiam di bumi Asmat untuk menghargai nilai-nilai positif kebudayaan setempat dan mempertahankan di tengah gerak arus zaman. Mgr. Alphonse Sowada, OSC pencetus museum ini memberi nama Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat dengan sebuah alasan bahwa wadah kebudayaan Suku Asmat ini mengemas bukan hanya unsur pelestarian kebudayaan semata tetapi lebih dari itu, kebudayaan dan aneka kearifan lokal yang ada menjadi pijakan bagi proses pemajuan dan masa depan Suku Asmat.

Museum kemudian secara perdana dibuka untuk publik pada perayaan Proklamasi, 17 Agustus 1973. Momentum perdana ini sekali lagi bukan tanpa alasan. Semangat dan keseriusan Gereja Katolik untuk melestarikan dan memajukan kebudayaan Asmat hendak diformulasikan dengan semangat nasionalisme yang terpatri dalam diri setiap putra-putri Asmat sekaligus membangkitkan kesadaran mereka akan kebudayaan Asmat sebagai bagian integral dari kebudayaan nasional.

Tak dapat dipungkiri bahwa sudah 43 tahun, Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat berdiri kokoh di tengah-tengah pemiliknya, Suku Asmat. Patut dibanggakan bahwa Museum ini pernah mendapat penghargaan Upakarti dari Presiden Suharto pada tahun 1987 atas jasa kepeloporan budaya dan industri kecil. Ada sekian banyak museum maupun galeri benda seni di dunia yang memiliki koleksi Asmat tetapi museum yang tampaknya sederhana ini tetap menarik sekian banyak peminat seni, peneliti budaya, antropolog, sosiolog dan kaum intelektual lain yang datang ke Asmat untuk mendalami kearifan lokal di tanah lumpur ini. Sekali lagi museum ini secara subtansial berbeda dengan kebanyakan museum lain justru karena museum ini berada di tengah pemiliknya. Bagi orang Asmat, Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat adalah ‘rumah adat’ mereka. Museum adalah Jew, tempat di mana mereka merasakan dan mengalam perjumpaan dengan roh-roh leluhur mereka. Museum ini menjadi tempat berkumpulnya anak anak Asmat yang melihat dan merasakan dari dekat denyut budaya mereka yang dengan bangga dihadirkan oleh orang tua dan nenek moyang mereka. Selama ini museum Asmat menjadi jawaban akan berbagai pertanyaan tentang apa itu kebudayaan Asmat. Museum menjadi pusat informasi, wadah di mana siapa saja datang, melihat, membaca dan mengetahui masa lalu da menganalisa masa sekarang sekaligus memberi kesadaran akan jati diri dan identitas budaya Suku Asmat di masa depan.

 

Asmat: tradisional vs modernitas

Yuvensius A. Biakai, Kurator ke-2 Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat berujar, “Saya hidup dalam dua dunia, orang Asmat juga demikian. Kami tidak bisa menyangkal akan kenyataan ini, Di satu sisi kami sadar akan identitas budaya kami sebagai Suku Asmat tetapi kami juga sedang berhadapan dengan kebudayaan-kebudayaan luar.” (Asmat Drums, Maret 1982).

Kata-kata Bapak Yuven itu kini menjadi fakta tak terelakan di lumpur Asmat. Sejak 2004, ketika Asmat menjadi Kabupaten, mobilisasi penduduk dengan kebudayaanya datang ke Asmat. Maka yang terjadi adalah keanekaragaman budaya. Banyak orang, banyak dampak, tentu saja positif tapi juga tak terelakan yang negatif. Orang Asmat tidak bisa menolak orang lain, karena hakekatnya kemajuan tercipta bila bersama orang lain. Meski demikian, di berbagai belahan dunia saat ini sedang diangkat isu ketahanan budaya bagi masyarakat lokal. Inilah yang sedang diberdayakaan di Asmat sekarang ini yang kerap kita sebut “Mempertahankan jati diri.”

Setelah iebih dari usia 10 tahun Asmat berstatus kabupaten, banyak terjadi berbagai transisi dalam kebudayaan Asmat. Arus masuk penduduk dari luar Asmat turut berpengaruh bagi ketahanan budaya penduduk lokal. Dari 70.000 populasi penduduk, separuh di antaranya adalah pendatang. Perjumpaan ini di satu sisi adalah positif karena interaksi sosial dan kemajemukan tersebut bisa mengawinkan potensi lokal dan unsur modern. Tetapi fakta memperlihatkan suatu keprihatinan akan semakin lemahnya ketahanan budaya penduduk lokal berhadapan dengan daya pikat modernisasi. Di tengah masa transisi ini telah terjadi apa yang disebut dengan krisis sosial-kemasyarakatan. Urbanisasi menjadi fenomena yang mengemuka saat ini di Agats, ibukota kabupaten Asmat. Kaum urban yang meninggalkan kampung dan berduyun-duyun datang ke Agats kemudian memunculkan tipe penduduk marginal. Banyak penduduk loka! yang tergeser karena lemahnya persaingan dan akhirnya mendiami daerah-daerah pinggiran. Kepemilikan tanah dan hutan yang berangsur-angsur mulai hilang. Banyak tempat sakral yang terjamah dan rusak karena dampak pembangunan. Abrasi yang makin cepat dan hutan yang makin menipis karena produksi kayu untuk kepentingan infrastruktur. Pemanfaatan hutan yang tidak arif ini kemudian menimbulkan dampak sosial dalam kekerabatan orang Asmat. Banyak, keluarga yang bertikai karena penggerogotan hak milik orang, banyak tempat yang dipeliha.. ta karena unsur tabu mulai dilanggar demi mendapatkan ‘uang dusun’. Pendidikan berbasis budaya yang tak dijalankan dan kasus HIV/AIDS yang terus meningkat di Asmat.

Krisis kebudayaan saat ini juga makin menguat dengan timbulnya krisis kepemimpinan. Semakin sulitnya mencari figur penduduk lokal yang memiliki karakter kepemimpinan adat yang dipercaya dan menjadi panutan bagi banyak anggota masyarakat, adanya gap antara generasi tua dan mudah. Semakin kurangnya proses pendidikan adat bagi generasi muda. Estafet kebudayaan menjadi suatu problem karena fakta memperlihatkan kecenderungan orientasi penduduk terhadap unsur-unsur dari luar. Banyak rumah adat (Jew/Yai) yang sudah tidak ada lagi di kampung padahal rumah adat ini menjadi wadah pemelihara kebudayaan Asmat dan aneka kearifan lokal orang orang yang disebut Asamat ini.

 

Pembangunan Museum Asmat yang Baru.

Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat sedang berada dalam fenomena kebudayaan modern. Modernisasi bisa menimbulkan keterancaman kebudayaan lokal jika pemiliknya tidak mempertahankan jati diri dan identitas budayanya. Suku Asmat pastinya tahu tentang perubahan-perubahan yang sedang terjadi tetapi bisa jadi belum ada bayangan apa yang perlu dibuat untuk mengatasi keterancaman itu. Museum diharapkan tetap menjadi guide masa depan Asmat sekaligus motivator dalam pemberdayaan ketahanan jati diri dan identitas budaya Asmat. Pada tahun 2007, Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, dalam suatu pertemuan pastoral yang dihadiri oleh semua petugas pastoral Keuskupan Agats, beliau menyampaikan gagasan untuk memulai berbagai persiapan dalam rangka pembangunan museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat yang baru. Gagasan ini muncul setelah diadakan sebuah diskusi terbatas guna menyimak keberadaan bangunan museum Asmat saat ini yang diakui sudah tidak efesien dengan beberapa faktor antara lain:

  1. Bangunan museum sudah tua dan beberapa bagian bangunan yang mulai rusak.
  2. Pada tahun 2008, lantai museum dibanjiri air pasang mengakibatkan beberapa koleks; terendam air dan rusak.
  3. Ruang pameran museum semakin sempit karena penambahan koleksi setiap tahunnya.
  4. Koleksi museum sulit ditata secara baik karena luas ruangan yang terbatas.
  5. Banyak program dan pembinaan tidak bisa dijalankan karena keterbatasan ruangan.
  6. Banyak koleksi yang mulai sulit dirawat (terancam rusak) karena interior museum yang tidak efisien: kesulitan penataan sirkulasi udara/ temperatur, serangga pengganggu koleksi serta faktor keamanan koleksi dari pengunjung.
  7. Tidak tersedianya beberapa ruang yang mendukung program pengembangan museum: ruang audio-visual, ruang pameran sementara, ruang pameran tetap, ruang riset-perpustakaan, pusat pendidikan kebudayaan untuk pelajar, ruaang/gedung kegiatan, ruang fumigasi/ karantina serta ruang pameran foto, gambar, video dan slide.

Antara 2007-2013 diadakan sejumlah pertemuan dalam rangka menghimpun pendapat dan penetapan keputusan pembangunan museum Asmat yang baru. Beberapa pihak yang turut mendukung dan terlibat dalam berbagai diskusi dan pertemuan yaitu: Bapak Uskup Emeritus Mgr. Alfons Sowada, OSC, para mantan misionaris OSC di Amerika, Bapak Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, Petugas pastoral Keuskupan Agats dan Komisi Kebudayaan secara khusus, mantan Bupati Kabupaten Asmat Yuvensius A. Biakai, Pemerintah Daerah Kabupaten Asmat, anggota Lembaga Masyarakat Adat Asmat (LMAA), Thomas Asong sebagai kontraktol Dr. Gunter Konrad dari Jerman, Theo van den Broek serta para tetua adat di kampung yang terlibat dalam diskusi ketika Komisi Kebudayaan mensosialisasi museum Asmat yang baru di tiap kampung. Beberapa rekan dari manca negara yang turut memberikan masukan dan terlibat diskusi berasal dari Troppenmuseum di Amsterdam, American Museum of Natural History di New York, National Museum of Ethnology di Leiden, British Museum, Cambridge University of Museum and Archeology, Metropolitan Museum di New York, American Museum of Asmat Art di St. Thomas University, Minnesota serta Queensland Art Gallery dan Gallery of Modern Art di Brisbane Australia.

Tujuannya adalah menentukan jenis program yang perlu dikembangkan oleh museum ke depan demi jati diri dan identitas budaya Suku Asmat. Selain itu sekian pertemuan dan diskusi untuk menentukan desain gedung dan konstruksi bangunan yang sesuai dengan program yang akan dikembangkan dan desain yang kontekstual dengan unsur-unsur dasar kebudayaan Suku Asmat. Dengan demikian arsitektur Museum Asmat yang baru adalah hag diskusi dan pemikiran dari banyak orang.

 

Komitmen Bersama.

Dibukanya Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat adalah upaya untuk terus mengharca, peduli dan memantapkan visi kebudayaan yang diemban Komisi Kebudayaan Keuskupan Agats. Lebih dari itu, pembangunan museum ini menunjukan usaha dan keseriusan kita semug Pemerintah Kabupaten Asmat, Keuskupan Agats, para pemerhati kebudayaan Asmat dari manca negara dan domestik untuk bekerjasama dan mendukung suatu babak baru proses pelestarian kebudayaan Asmat secara holistik.

Arus modernisasi yang terus bergerak dan berusaha mengikis tiap unsur kebudayaan Suku Asmat adalah suatu realita yang mengundang semua pihak untuk memberikan kontnibus. Usaha-usaha yang kita lakukan adalah suatu sumbangan berharga bagi Suku Asmat dalam merawat dan melestarikan totalitas kebudayaan mereka serta mempertahankan jati din dat identitas budayanya. Dengan demikian Asmat akan terus tampil sebagai salah satu situs warisan kebudayaan dunia yang masih ‘hidup’ di antara berbagai kebudayaan di belahan Pasitk yang semakin tergerus oleh modernisasi.