PERISAI

Selama tahun-tahun awal kontaknya, perisai orang Asmat pada umumnya diperikan sebagai perisal dari Asmat, tanpa pembedaan. Di kemudian hari, begitu perisai kawasan Brazza menjadi terkenal, maka dibuat pembedaan: Perisai Brazza dan Perisai Asmat pada umumnya. Setelah diadakan telaah lebih lanjut, klasifikasi perisai Asmat diperluas menjadi empat, yakni Kawasan A, B, C, dan D. Akhirnya, pada tahun 1995, penggolongan ini harus diperluas menjadi dua belas, mewakili dua belas kelompok Asmat, masing-masing dengan ciri budayanya yang jelas-jelas berlainan.  

Namun, ada persamaan antara kelompok baik dalam gaya maupun dalam penggambarannya. Penyajian perisai dalam katalog ini diberikan sedemikian hingga sidang pembaca akan lebih mampu membandingkannya untuk mengapresiasi baik persamaan maupun perbedaannya.

Orang Asmat menekankan sekali arti dan makna perisai. Mereka membentuk perisai-perisai itu berdasarkan norma-norma yang diperintahkan oleh alam roh. Perisai tidak hanya merupakan alat pelindung yang digunakan dalam peperangan untuk menangkis anak panah dan tombak, tetapi juga merupakan sebuah benda yang memiliki kekuatan sihir besar untuk menangkis bahaya serta melindung baik orang perorangan maupun masyarakat pada umumnya. 

Perisai diberi nama berdasarkan anggota marga di masa lalu, biasanya seorang pahlawan perang yang sukses. Perisai kemudian secara automatis terimbas oleh roh dan kekuatannya. Desain dan lambang meningkatkan kekuatan yang tertampung dalam sebuah perisai.

Orang Asmat membuat perisai entah dari akar pipih, entah dari pokok pohon bakau. Kayu pohon bakau yang mudah digarap memberikan sarana yang cocok bagi pembuat perisai untuk membentuk perisai dengan alat dari batu, tulang dan kerang. Dalam sejarahnya, orang Asmat Pesisir memperoleh paku baja (sei fini) dari papan rongsokan kapal yang terdampar di garis pantai Asmat dan kemudian terhempas ke hulu selama musim hujan. Mereka memipihkan pakupaku itu dengan batu dan membuatnya menjadi alat mirip pahat untuk ukir-mengukir. Di kemudian hari, ketika ada kontak dengan orang Barat, orang Asmat memperoleh kapak, pisau dan tatah dari baja. Seniman mengukir perisai dan pegangan sebagai satu kesatuan. Pegangan diberi sembulan pendek atau sebuah lingir panjang yang melebar dan menyembul di tengah. Di tempat ini dibuat lubang satu hingga tiga buah yang digunakan sebagai pegangan.

Di seluruh kawasan Asmat, seniman mengukir patung-patung sosok manusia dan lambang pada perisai.Gambarangambaran diukir relief dan dicat entah berwarna merah pada latar belakang putih, entah berwarna putih pada latar belakang merah, dikerangkai dengan garis-garis timbul kecil berwarna hitam. Hampir di seluruh kawasan Asmat, warna putih diperoleh dari serbuk kerang remis yang dibakar, sedangkan di kawasan hulu di mana kerang jarang didapat, warna itu diperoleh dari tanah liat kaolin. Warna merah diperoleh dari tanah liat berwarna merah yang dibakar, sari buni liar atau pepagan dari pohon wase. Warna hitam diperoleh dari arang. 

Dalam perian mengenai gambaran-gambaran pada perisai berikut, para editor menahan diri agar tidak merinci apa yang disajikan sebuah gambaran khusus, jika tidak jelas, karena gambaran-gambaran serupa memuat arti berbeda dari kelompok ke kelompok, bahkan kadang kala dari orang satu ke orang lain dalam desa yang sama.

Perisai Brazza. Desa Aserep. 1975