Wanita Asmat dan Seni

Dalam penelitiannya terhadap wanita-wanita dari masyarakat pra aksara, para ahli antropologi wanita, yakni Camilla Wedgwood, Hilde Thurnwald, Phyllis Kabery, Mary Reay, Catherine Berndt dan di kemudian hari Margaret Mead serta Brigitta Hauser-Schaublin, mengadakan pengamatan penting dan sah untuk ilmu etnologi. Mereka mengamati bahwa dalam kajian penelitiannya yang dahulu, selain beberapa perkecualian yang jarang ada, hanya ada sekitar separuh dari anggota paguyuban itu yang dikenal, karena data budayanya diperoleh dari kaum pria oleh ahli etnologi pria.

Susur Kultur: Menapaktilasi jejak abadi masyarakat Asmat (Bagian 2)

ANTARA – Asamanam atau keseimbangan adalah pandangan orang Asmat dalam menjaga dan merawat kehidupan. Melalui pameran seni dan eksibisi arsip, Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat Keuskupan Agats mencoba merangkum tiga unsur filosofi orang Asmat dalam menjaga keseimbangan kehidupan yaitu keseimbangan hubungan dengan sesama, leluhur, dan alam. (Ahmad Faishal Adnan/Syamsul Rizal/Satrio Giri Marwanto/Ahmad Faishal Adnan)

Susur Kultur: Menapaktilasi jejak abadi masyarakat Asmat (Bagian 1)

ANTARA – Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat Keuskupan Agats di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, menghadirkan ragam koleksi seni ukir, patung, dokumentasi foto, serta banyak barang berharga yang memberikan cuplikan gambaran kehidupan sehari-hari, upacara adat, dan interaksi sosial politik masyarakat Asmat. Di dalam bangunan baru museum yang diresmikan pada 10 Oktober 2016 ini, pengunjung dapat merasakan momen-momen berharga melalui rangkaian pameran yang tidak hanya mengabadikan masa lalu, namun juga menghormati dan memperingati kearifan lokal, serta kekayaan budaya dari suku Asmat. (Ahmad Faishal Adnan/Syamsul Rizal/Satrio Giri Marwanto/Ahmad Faishal Adnan)

Asmat: Seni Budaya

Komunitas Suku Asmat memandang kehidupan menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah dunia hidup atau Asmat ow capinmi, bagian kedua adalah tempat persinggahan orang-orang yang sudah  meninggal dan belum memasuki tempat istirahat kekal di safar –surga—yang disebut dampu ow capinmi. Roh-roh yang tinggal di dampu ow capinmi adalah penyebab penyakit, penderitaan, gempa bumi, dan peperangan. Orang-orang yang masih hidup harus menebus roh-roh ini dengan membuat pesta-pesta dan ukiran serta memberinya nama agar mereka dapat masuk ke alam safar –yang merupakan tujuan akhir, bagian ketiga dari kehidupan orang Asmat.

Asmat Museum

ASMAT MUSEUM Representasi Jati Diri Suku Asmat Di Tengah Modernisasi. John Ohoiwirin Visi Gereja Katolik Asmat. Museum Kebudayaan dan Kemajuan Asmat adalah wujud nyata dari kepedulian Gereja Katolik akan penghargaan kearifan lokal di tanah berlumpur ini, Museum ini merupakan representasi dari perjalanan panjang visi dan misi Gereja Katolik bagi kebudayaan Asmat. Sejak awal perutusan Gereja […]

error: Content is protected !!